Jumat, 21 September 2012

The difference in the Islamic business and conventional business



Islamic finance is a social science that studies the economic problems of the people who dilhami by Islamic values​​. Islamic business or cooperative business system is different from capitalism, socialism, and the welfare state (Welfare State). Different from capitalism because Islam oppose the exploitation of labor by capital owners are poor, and prohibits the accumulation of wealth. In addition, businesses in glasses Islam are the demands of life as well as the advice that has dimensions of worship.



The difference in Islamic finance with conventional business:
The economic crisis that often happens suspected was the work of conventional economic system, which puts the system of interest as an instrument provitnya. Contrary to what is offered Islamic economic system, with provitnya instruments, namely sharing system.
Islamic economic system is very different from the capitalist, socialist or communist. Islamic business nor are in the middle of the three systems business. Stands in stark contrast with the more individual capitalist, socialist who gives almost all the responsibility to the citizens as well as the extreme communist, Islamic business and trade set form perkhidmatan that can and can not be traded. Islamic businesses must be able to provide for the welfare of the whole community, provide a sense of justice, togetherness and able to provide the widest possible opportunity for every business actor
Ciri khas bisnis syariah Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip yang mendasar saja. Karena alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah banyak sekali membahas tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku sebagai produsenkonsumen dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang sistem ekonomi. Sebagaimana diungkapkan dalam pembahasan diatas, ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Selain itu, ekonomi syariah menekankan empat sifat, antara lain:
1.  Kesatuan (unity)
2.  Keseimbangan (equilibrium)
3.  Kebebasan (free will)
4.  Tanggungjawab (responsibility)
Manusia sebagai wakil (khalifahTuhan di dunia tidak mungkin bersifat individualistik, karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milikAllah semata, dan manusia adalah kepercayaan-Nya di bumi. Di dalam menjalankan kegiatan ekonominya, Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti "kelebihan". Dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 275 disebutkan bahwa Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Tujuan bisnis syariah:
 bisnis syariah mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi kehidupan di dunia. Nilai Islam bukan semata-semata hanya untuk kehidupan muslim saja, tetapi seluruh mahluk hidup di muka bumi. Esensi proses  bisnis syariah adalah pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam guna mencapai pada tujuan agama (falah). Ekonomi Islam menjadi rahmat seluruh alam, yang tidak terbatas oleh ekonomi, sosial, budaya dan politik dari bangsa. bisnis syariah mampu menangkap nilai fenomena masyarakat sehingga dalam perjalanannya tanpa meninggalkan sumber hukum teori ekonomi Islam, bisa berubah.

Perbedaan yang utama antara bisnis islam dan bisnis konvensional adalah:

Pertama : secara epistemologis ekonomi Islam dipercaya sebagai bagian integral dari ajaran Islam itu sendiri, sehingga pemikiran bisnis Islam langsung bersumber dari Tuhan.

Kedua : ekonomi Islam dilihat sebagai sistem yang bertujuan bukan hanya mengatur kehidupan manusia di dunia, tapi juga menyeimbangkan kepentingan manusia di dunia dan akhirat. Ini membawa implikasi dari aspek normatif: apa yang baik dan buruk, apa yang harus dilakukan atau dihindari bukan semata-mata dilihat dari aspek efisiensi sebagaimana dikenal dalam ekonomi konvensional, melainkan bagaimana agar tindakan di kehidupan duniawi juga menghasilkan imbalan di akhirat.

Ketiga : sebagai konsekuensi dari landasan normatif itu, sejumlah aspek positif atau teknis dalam bisnis konvensional tak bisa diaplikasikan karena bertentangan dengan nilai-nilai yang dibenarkan oleh Islam.
referensi :
http://halaqohtdj.blogspot.com/2012/02/perbedaan-ekonomi-syariah-dan-ekonomi.html
htmlhttp://devilmycry4.wordpress.com/2010/11/04/membandingkan-ekonomi-islam-dengan-ekonomi-konvensional/

1 komentar:

  1. judul dan abstrak seharusnya dlm bhs inggris. referensi perlu ditambah. topik yg diminta adalah proses bisnis syariah bukan ekonomi syariah.

    BalasHapus